Narative.id Tegal · Network of Local News
ADVERTISEMENTtes4
Sejarah & Budaya

Mbah Semedo, Kisah Saudagar dari Yaman dan Suara-suara yang Hidup dalam Cerita Peziarah

NARATIVE.ID, TEGAL — Di sebuah makam yang dikenal masyarakat sebagai makam Mbah Semedo, orang datang membawa banyak hal.Ada yang datang untuk berziarah.Ada yang membawa…
Panorama Waduk Cacaban di Kabupaten Tegal yang dikelilingi kawasan hijau dan fasilitas wisata di tepian waduk.
Panorama Waduk Cacaban di Kabupaten Tegal yang dikelilingi kawasan hijau dan fasilitas wisata di tepian waduk. · Foto: Dok. Narative.id / Istimewa
NARATIVE.ID, TEGAL — Di sebuah makam yang dikenal masyarakat sebagai makam Mbah Semedo, orang datang membawa banyak hal.

Ada yang datang untuk berziarah.

Ada yang membawa kegelisahan.

Ada pula yang datang dengan harapan tentang pekerjaan, rezeki, bahkan kehidupan yang ingin berubah.

Yusro telah lama berhadapan dengan berbagai macam peziarah itu.

Sebagai orang yang menjaga makam, ia tidak hanya mengenal tempat tersebut dari batu nisan dan orang-orang yang datang berdoa.

Ia juga menyimpan cerita yang diwariskan tentang sosok Mbah Semedo.

“Versinya, Mbah Haji Semedo ini dari negara Yaman,” tutur Yusro.

Dalam cerita yang berkembang di masyarakat, Mbah Semedo disebut sebagai seorang saudagar yang pernah menetap di Batavia sebelum melakukan perjalanan menuju wilayah Tegal.

“Dulu menetap di Batavia. Karena seorang alim, kemudian melanglang buana ke Tegal,” katanya.

Perjalanan itulah yang kemudian, menurut cerita masyarakat, membawa Mbah Semedo ke kawasan tersebut.

Yusro menuturkan, nama Semedo juga dipercaya berkaitan dengan aktivitas sang tokoh yang melakukan semedi.

“Bersemedi di desa sini. Makanya dari kata semedi, sekarang namanya Semedo,” ujarnya.

Itulah cerita yang hidup di tengah masyarakat.

Bukan hanya kisah perjalanan seorang tokoh dari tempat yang jauh.

Makam tersebut juga dikelilingi cerita mengenai hal-hal yang oleh sebagian warga dianggap berada di luar keseharian manusia.

Yusro menyebut berbagai kisah telah lama terdengar di sekitar tempat itu.

Ada cerita mengenai suara hewan.

Ada suara-suara yang muncul menjelang malam.

Ada pula pengalaman peziarah yang datang pada waktu tertentu.

“Banyak sekali di sini,” katanya ketika ditanya mengenai cerita di luar nalar yang berkembang di sekitar makam.

Salah satu pengalaman yang masih diingat Yusro terjadi ketika sejumlah tamu datang dari Cirebon dan Tangerang.

Mereka tiba malam hari dan sempat berbincang dengannya.

Menjelang dini hari, Yusro kemudian mengajak mereka mengambil air wudu sebelum masuk untuk berdoa di makam.

Belum lama berada di dalam, terdengar suara.

“Seperti orang menangis, minta ampun kepada Allah. ‘Ya Allah’, sampai tiga kali,” tutur Yusro.

Setelah keluar, mereka saling bertanya.

Tak seorang pun merasa mengeluarkan suara tersebut.

Bagi sebagian orang, kejadian seperti itu mungkin sulit diterima.

Namun di sekitar makam Mbah Semedo, cerita semacam itu telah lama hidup berdampingan dengan aktivitas ziarah.

Meski demikian, Yusro memiliki satu batas yang selalu ia tegaskan.

Ia tidak ingin makam menjadi tempat orang menggantungkan permintaan kepada sosok yang telah meninggal.

Peziarah memang datang membawa banyak keinginan.

“Ada yang minta macam-macam. Ada yang ingin naik pangkat, rezeki dan lain-lain,” katanya.

Di situlah perannya sebagai juru kunci menurut Yusro menjadi penting.

“Kita atas nama juru kunci meluruskan supaya jangan meminta kepada makam,” tegasnya.

Peziarah diarahkan membaca tahlil dan mengirim doa.

Setelah itu, permintaan tetap harus ditujukan kepada Tuhan.

“Kita suruh minta kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala,” katanya.

Yusro juga menjaga tata krama peziarah.

Menurut dia, orang yang memasuki kawasan makam harus menghormati tempat tersebut.

Bukan semata karena cerita yang mengelilinginya, tetapi karena makam diperlakukan sebagai ruang ziarah.

Pakaian, ucapan dan perilaku menjadi bagian dari adab yang ia jaga.

Malam akan terus datang ke Semedo.

Peziarah pun mungkin akan terus berdatangan dengan cerita yang berbeda-beda.

Sebagian akan pulang membawa ketenangan.

Sebagian mungkin membawa cerita tentang sesuatu yang tidak dapat mereka jelaskan.

Tetapi di tengah semua kisah itu, Yusro tetap memegang pesan yang sama:

ziarah adalah tentang mendoakan yang telah pergi.

Bukan meminta kepada makam.

Dan selama cerita Mbah Semedo masih dituturkan dari satu orang kepada orang berikutnya, sosok itu akan tetap hidup dalam ingatan masyarakat.

Rekomendasi Video

Dipilih otomatis sesuai topik · geser →
#event bonsai tegal
Moh. Fadli Nizami P, S.IP
Moh. Fadli Nizami P, S.IP
Reporter / Redaksi Narative.id Tegal

KOMENTAR (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Berita Terkait

BERITA TERBARU DARI JARINGAN NARATIVE.ID

Sucy Sanggar PSB ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
KristiantoADVERTISEMENT