Narative.id Tegal · Network of Local News
ADVERTISEMENTtes4
Sejarah & Budaya

Di Balik Air Waduk Cacaban, Kisah Kedung Pipisan dan Para Penunggu yang Masih Dipercaya Warga

NARATIVE.ID, TEGAL — Siang hari, Waduk Cacaban mungkin hanya terlihat sebagai hamparan air yang tenang.Perahu bergerak membawa pengunjung. Nelayan mencari ikan. Dari kejauha…
Panorama Waduk Cacaban di Kabupaten Tegal yang dikelilingi kawasan hijau dan fasilitas wisata di tepian waduk.
Panorama Waduk Cacaban di Kabupaten Tegal yang dikelilingi kawasan hijau dan fasilitas wisata di tepian waduk. · Foto: Dok. Narative.id / Istimewa
NARATIVE.ID, Tegal— Siang hari, Waduk Cacaban mungkin hanya terlihat sebagai hamparan air yang tenang.

Perahu bergerak membawa pengunjung. Nelayan mencari ikan. Dari kejauhan, menara intake berdiri di antara luasnya waduk.

Tetapi bagi sebagian masyarakat yang tumbuh di sekitar Cacaban, air itu menyimpan lebih dari sekadar cerita tentang bendungan.

Ada nama lama, kisah para sesepuh, tradisi ruwat bumi, larangan, hingga cerita mengenai sosok-sosok yang dipercaya telah berada di kawasan tersebut jauh sebelum waduk ramai dikunjungi wisatawan.

Untung Mulyono termasuk salah seorang yang masih menyimpan cerita tersebut.

Menurut penuturannya, sebelum dikenal sebagai Waduk Cacaban, kawasan itu memiliki nama yang berbeda.

“Dulunya itu namanya Kedung Pipisan,” kata Untung.

Ia menerangkan, nama tersebut berkaitan dengan pertemuan sejumlah aliran sungai di kawasan itu.

Dalam cerita yang ia ketahui, beberapa sungai mengalir dari desa-desa di sekitar kawasan dan kemudian bertemu di tempat yang disebut Kedung Pipisan.

Namun perjalanan cerita Cacaban tidak berhenti pada air dan sungai.

Di tengah masyarakat tumbuh pula kepercayaan tentang para penghuni tak kasatmata yang dianggap menjaga sejumlah bagian kawasan waduk.

Nama-nama seperti Mbah Brama, Mbah Santi dan sejumlah tokoh lain masih muncul dalam cerita yang diwariskan masyarakat.

Untung menyebut tradisi ruwat bumi atau sedekah bumi juga menjadi bagian dari kehidupan masyarakat di sekitar Cacaban.

“Setiap tahunnya diadakan ruwat bumi atau sedekah bumi,” tuturnya.

Ritual tersebut, dalam kepercayaan sebagian masyarakat, menjadi bentuk penghormatan sekaligus ungkapan rasa syukur atas kehidupan yang berlangsung di sekitar waduk.

Arif, warga setempat, juga mengenal tradisi itu.

Menurut dia, kegiatan tersebut biasanya dilaksanakan pada bulan Muharam dan telah berlangsung secara turun-temurun.

“Setiap tahun sekali ada pelarungan. Ruwat bumi bahasanya,” kata Arif.

Baginya, tradisi itu tidak semata berkaitan dengan cerita gaib.

Ada rasa syukur kepada Tuhan atas rezeki dan kehidupan yang diberikan melalui keberadaan Waduk Cacaban.

Namun Cacaban juga memiliki cerita malam.

Arif pernah mendengar kisah seorang sesepuh bernama Mbah Dirun yang disebut didatangi sosok tak dikenal ketika duduk di tepi waduk.

Dalam cerita yang diwariskan kepadanya, sosok tersebut memperkenalkan diri sebagai salah satu penghuni kawasan.

“Katanya, saya ini penunggu sini,” tutur Arif mengulang cerita yang pernah ia dengar.

Bagi Arif, cerita seperti itu telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat sekitar.

“Mitos itu banyak di sini,” katanya.

Ia tidak meminta setiap pengunjung mempercayai seluruh cerita tersebut.

Tetapi ada satu hal yang menurutnya tetap penting: adab.

“Datang ke sini harus sopan santun. Itu harus dijaga,” ujarnya.

Burhan Subekti memiliki pandangan serupa.

Ia menyebut masyarakat mengenal sejumlah nama yang dipercaya berkaitan dengan dunia tak kasatmata di kawasan Cacaban.

“Mbah Santi dan Mbah Brama, juga ada Nyai Gringsing. Itu yang dipercaya masyarakat sekitar Cacaban,” katanya.

Di balik semua cerita tersebut, Burhan mengingatkan bahwa waduk memiliki bahaya yang nyata.

Terutama di sekitar menara intake.

Di bagian tersebut terdapat arus air yang digunakan untuk kepentingan irigasi.

“Di bawah menara intake itu ada semacam arus yang keluar untuk irigasi sawah. Itu juga berbahaya,” katanya.

Karena itu, pengelola melarang pengunjung berenang di kawasan tersebut.

Cerita tentang bahayanya air Cacaban juga hadir melalui peristiwa yang masih dikenang warga.

Burhan menuturkan kisah seorang lelaki lanjut usia yang suatu sore meminta diantar menggunakan jukung.

Pria itu disebut hendak menuju arah Desa Wanarata.

Ketika perahu berada di tengah waduk, sesuatu terjadi.

“Di tengah, dengan sendirinya itu menceburkan diri ke waduk,” tutur Burhan.

Menurut cerita yang ia sampaikan, lelaki tersebut baru ditemukan beberapa hari kemudian.

Peristiwa itu kemudian ikut menjadi bagian dari cerita yang berkembang di sekitar waduk.

Di Cacaban, batas antara cerita lama, pengalaman warga dan kepercayaan memang kerap bertemu.

Untung bahkan mengaku pernah mengalami sendiri kejadian yang menurutnya sulit dijelaskan ketika masih muda dan mencari ikan pada malam hari.

Ia mengingat malam dengan gerimis tipis.

Waktu telah melewati tengah malam.

Di tengah suasana itulah, ia mengaku melihat sesuatu yang hingga kini masih melekat dalam ingatannya.

Ia menyebut sosok perempuan yang dalam kepercayaannya berkaitan dengan salah satu cerita lama Cacaban.

Benar atau tidaknya cerita tersebut mungkin akan selalu bergantung pada siapa yang mendengarnya.

Namun bagi masyarakat yang hidup berdampingan dengan waduk, kisah-kisah itu telah menjadi bagian dari Cacaban.

Dan mungkin karena itulah pesan Untung kepada pengunjung terdengar sederhana.

Jaga ucapan.

Jaga perilaku.

Patuhi larangan.

“Mohon berhati-hati. Jaga ucapan dan patuhi aturan yang sudah diterapkan,” pesannya.

Sebab bagi warga sekitar, berkunjung ke Cacaban bukan hanya tentang menikmati air dan pemandangan.

Ada sejarah lisan, tradisi, keselamatan dan kepercayaan yang ikut hidup di tepian waduk.

Airnya mungkin tenang.

Tetapi ceritanya tidak pernah benar-benar diam.

Rekomendasi Video

Dipilih otomatis sesuai topik · geser →
Moh. Fadli Nizami P, S.IP
Moh. Fadli Nizami P, S.IP
Reporter / Redaksi Narative.id Tegal

KOMENTAR (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Berita Terkait

BERITA TERBARU DARI JARINGAN NARATIVE.ID

Sucy Sanggar PSB ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
KristiantoADVERTISEMENT